ITB dan Luar Negeri
Budi Rahardjo
Bangsa kita ini agaknya lebih suka berorientasi kepada luar negeri. Suatu artikel di koran Kompas menunjukkan bahwa begitu diangkat menjadi Presiden, Presiden kita ini kemudian langsung ke luar negeri. Wakil rakyat pun memiliki acara jalan-jalan ke luar negeri. Entah itu studi banding lah atau apapun namanya. Yang pasti, ke luar negeri. Ada apa sih dengan luar negeri?
ITB pun kelihatannya tidak berbeda. Dosen-dosen di ITB lebih suka mengirimkan makalahnya ke konferensi di luar negeri. Padahal negara luar negeri, atau perguruan tinggi, yang dituju tersebut rangkingnya berada di bawah ITB (menurut survey majalah Asiaweek, misalnya). Dosen lebih senang mengirimkan makalah ke seminar di Thailand atau Malaysia, misalnya. Mengapa justru ITB tidak mengadakan acara seminar, konferensi, diskusi, dan kegiatan akademik lainnya yang bertaraf internasional di Indonesia?
Ditinjau dari sudut kegiatan, jika kita pergi ke luar negeri untuk mengikuti konferensi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi asing tersebut maka pihak luar negeri yang lebih beruntung. Kegiatan mereka akan memiliki nuansa internasional. Bahkan konferensi atau seminar tersebut menjadi layak disebut international conference. Kegiatan ini akan tercatat dalam profile mereka. Sehingga nantinya akan meningkatkan peringkat perguruan tinggi mereka. Selain itu kegiatan ini memiliki efek sampingan yaitu meningkatkan pariwisata di negara yang dituju.
Banyak kegiatan internasional yang dapat dilakukan di ITB, antara lain seminar, konferensi, training, short course, dan kuliah (program sarjana dan pasca sarjana). Kuliah dalam bahasa Inggris sebaiknya diuji coba melalui international programme. Adanya kegiatan internasional ini memiliki dampak yang luar biasa. Kita jadi kenal dengan bangsa lain, terlatih menggunakan bahasa Inggris, dan tidak minder di kancah internasional. Bayangkan jika di kampus ITB kita melihat orang dari berbagai suku bangsa (kulit putih, kuning, coklat, hitam; bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, Arab) maka kita akan memiliki pengalaman internasional. Warga asing akan berlomba-lomba datang ke Indonesia. Maka kita dapat memilih yang terbaik dan membawa efek meningkatkan kualitas ITB.
Perlu diingat bahwa perguruan tinggi papan atas pun berlomba-lomba untuk mengadakan kegiatan internasional di kampusnya. Bahkan perkuliahan normal pun di Amerika Serikat mengandalkan mahasiswa asing (foreign students) untuk meningkatkan kualitasnya. Mereka tahu bahwa untuk menjadi yang terbaik mereka harus menarik orang-orang yang terbaik dari seluruh dunia.
Tulisan ini tidak bermaksud menunjukkan arogansi ITB. Namun, perlu diperhatikan adanya kegiatan dan strategi untuk meningkatkan kualitas ITB. Pada akhirnya hal ini ditunjukkan dengan peringkat ITB. Nah … when do we start?